MKU PTE


ISLAM DAN IPTEK
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

ISLAM adalah agama yang memicu perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi dan memiliki peradaban yang sangat mengagumkan Dunia. Bisa dikatakan jika Islam tidak ada, maka dunia selamanya akan gelap dengan kebodohan, seperti pada masa-masa keajaiban. Mengapa? karena Islam adalah penggerak perkembangan Ilmu pengetahuan dan Peradaban yang sekarang biasa kita nikmati hasilnya.
Para Filsuf Yunani, bisa bangkit dari jeratan “mitos” menuju “logos” mengandalkan kemampuan berpikir “deduktif (umum-khusus)” yang menghasilkan pengetahuan spekulatif (kira-kira/prediksi). Sementara membawa semangat rasionalistik Yunani, Islam mampu menciptakan pola logika “induktif” lewat observasi. Sehingga pengetahuan yang didapatkan tidak lagi berupa kira-kira/prasangka, tapi sudah memasuki ranah pembuktian secara objektif di lapangan.
Satu hal yang sangat menarik bagi kita adalah originilitas pemikiran Thomas Aquinas, salah satu filsuf abad pertengahan yang dielu-elukan oleh kaum Nasrani. Pengamat pemikiran Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA. M.Phil, mengatakan, karya hebat Aquinas, “Summa Theologia” adalah plagiasi dari karya Al Farabi dan Ibnu Rusyd.
Dalam ajaran Islam, pencarian ilmu, ataupun penyebarannya memiliki akar yang sangat kuat Ini dapat di buktikan dengan banyaknya hadist dan ayat al-Quran yang menerangkan akan hal tersebut. Salah satu hadist yang bisa dikutipkan sebagai ilustrasi mengenai pentingnya ilmu adalah salah satu sabda Rasulullah yang menyatakan keunggulan seorang berilmu dibandingkan dengan orang yang beribadah seperti terangnya bulan purnama dan bintang-bintang.
Begitu pentingnya masalah ilmu ini, buku-buku klasik Islam --semacam kitab-kitab hadist seperti Sahih Bukhari atau Sahih Muslim atau kitab klasik Ihya Ulumuddin karangan Al Ghazali-- memulai dengan bab nya mengenai ilmu. Peran penting ilmu ini bahkan diungkapkan oleh Imam Bukhari.
Kata-kata bijak Al Ghazali bisa dikutip untuk mengilustrasikan pentingnya ilmu dalam kehidupan. Beliau mengatakan,
 “Orang-orang yang selalu belajar akan sangat dihormati dan semua kekuatan yang tidak dilandasi pengetahuan akan runtuh.”

Seorang ulama kontemporer, Yusuf Qaradawi, mengungkapkan bahwa ilmu merupakan pembuka jalan bagi kehidupan spiritual yang terbimbing, ilmu merupakan petunjuk iman, penuntun amal; ilmu juga yang membimbing keyakinan dan cinta. Dalam risalahnya mengenai prioritas masa depan gerakan Islam, beliau menempatkan prioritas sisi intelektual dan pengetahuan melalui pengembangan fiqh baru sebagai prioritas awal.




BAB II
PEMBAHASAN
A.IPTEK DALAM PANDANGAN ISLAM
Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu, dalam ajaran Islam, adalah suatu yang sangat diwajibkan sekali bagi setiap Muslim, apakah itu menuntut ilmu agama atau ilmu pengetahuan lainnya. Terkadang orang tidak menyadari betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam kehidupan ini.

Ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan pendidikan sebagai berikut.
 QS. Al-Alaq 1-5 yang artinya:
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Allah Ta’ala berfirman menerangkan keutamaan ulama dan apa-apa yang mereka miliki dari kedudukan dan ketinggian:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

“Salah satu syarat diterimanya sebuah amal manusia adalam adanya ilmu. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Israa’: 36)

Hadist yang berkenaan dengan ilmu :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim no.1631)

 Adapun pahala menuntut ilmu Rasululllah saw. bersabda:
“Orang yang menuntut ilmu berarti menuntut rahmat; orang yang menuntut ilmu berarti menjalankan rukun Islam dan pahala yang diberikan kepadanya sama dengan pahala para nabi.” (H.R. Ad-Dailami dari Anas r.a).

Sedangkan dalam hadist lain yang diriwayatkan Imam Muslim r.a.:
“Barangsiapa yang melalui suatu jalan guna mencari ilmu pengetahuan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan baginya jalan ke surga.”
 Maka dalam menuntut ilmu niatkanlah semata-mata mencari keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan dibalas dengan pahala kebaikan untuk dunia dan akhirat.


Berikut ini adalah pandangan islam terhadap ilmu pengetahuan
1.      Ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
2.      Ilmu yang dipelajari hendaknya ilmu yang bermanfaat yang tidak merusak diri dan lingkungan
3.      Tidak ada pemisahan antara ilmu dan agama

Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Rasulullah Saw bersabda yang artinya:”menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”(HR. Ibnu Adi dan Baihaqi). Atas dasar ini, Negara wajib menyediakan pendidikan bebas biaya kepada warga negaranya baik muslim maupun non-muslim, miskin maupun kaya. Negara tidak hanya berkewajiban menyediakan pendidikan yang bebas biaya tetapi juga berkewajiban menyediakan pendidikan yang berkualitas dengan asas dan tujuan pendidikan.

B.PANDANGAN ISLAM TERHADAP SENI

 Seni adalah terjemahan dari kata art yang berasal dari bahasa latin yang berarti kemahiran. Seni berguna bagi pengembangan akal dan kreatifitas manusia untuk menata kehidupan yang lebih luas, harmoni, indah, sejuk dan menyenangkan. Berbeda dengan ilmu, seni tidak hanya bertumpu pada daya nalar tapi juga pada rasa dan intuisi. Nilai keindahan sebuah daya seni bersifat subyektif dan relative.

Islam sangat menghargai keindahan karena Allah SWT itu adalah sesuatu yang maha indah dan mencintai keindahan. Alam ciptaan tuhan diciptakan dengan harmoni dan penuh keindahan. Bahkan ayat-ayat suci al-qur’an mengandung nilai-nilai estetika yang sangat tinggi dan mengagumkan baik dari susunan gaya bahsa, tulisan dan kandungannya. Rasulullah memerintahkan umatnya untuk membaca ayat suci al-qur’an dengan tartil.

C.SIKAP SEBAGAI ILMUAN ISLAM

Albert einsten, pernah berrkata “ sciene without religion is lame, religion without sciene is blind”.
Pada dasarnya semua orang pernah melakukan penelitian walaupun menggunakan metode penelitian non ilmiah (unscientific) karena dorongan rasa ingin tahu, untuk mendapatkan kebenaran. Namun ketika seseorang peneliti menggunakan metode penelitian ilmiah (scientific research) sering menemukan hambatan. Di samping peneliti dituntut menguasai cabang ilmu pengetahuan yang ada hubungan dengan masalah yang diteliti, untuk mengurangi hambatan, peneliti juga harus memiliki sikap-sikap yang dibutuhkan seorang ilmuwan sebagai peneliti yaitu:
  1. Objektif, faktual, yaitu peneliti harus memiliki sikap objektif dan peneliti memulai pembicaraannya berdasarkan fakta;
  2. Open, fair, responsible, yaitu peneliti harus bersikap terbuka terhadap  berbagai saran, kritik, dan perbaikan dari berbagai kalangan. Begitu pula peneliti harus bersikap wajar, jujur dalam pekerjaannya, serta dapat mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya secara ilmiah;
  3. Curious, wanting to know, yaitu peneliti harus memiliki sikap ingin tahu terutama kepada apa yang diteliti dan senantiasa haus akan pengetahuan-pengetahuan baru. Berarti bahwa peneliti adalah orang-orang yang peka terhadap informasi dan data;
  4. Inventive always, yaitu peneliti harus memiliki daya cipta, kreatif, dan senang terhadap inovasi.

Selanjutnya peneliti dituntut memiliki kemampuan lain yaitu:
  1. Think, critically, systematically, yaitu peneliti adalah seorang yang memiliki wawasan, mempunyai kemampuan krtitis, dan dapat berfikir sistematis;
  2. Able to create, innovate, yaitu peneliti harus memiliki kemampuan mencipta karena harus selalu menemukan atau membuat penemuan-penemuan baru;
  3. Communicate affectivity, yaitu peneliti harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan memengaruhi pihak lain dengan komunikasi itu;
  4. Able to identify and formulate problem clearly, yaitu mampu mengenal dan merumuskan masalah dengan jelas;
  5. View a problem in wider context, yaitu mampu melihat suatu masalah dalam konteks yang luas karena suatu masalah biasanya tidak berdiri sendiri.
Dari penjelasan tersebut seorang ilmuan muslim didalam menerapkan IPTEK harus mempertimbangkan azaz manfaat dan mudarat serta kemaslahatannnya bagi kehidupan umat manusia. Dengan kata lain seorang ilmuan muslim dalam menerapkan IPTEK harus berlandaskan iman dan taqwa . disinilah terlihat pentingnya integrasi ilmu dan agama.

D.TANGGUNG JAWAB ILMUAN ISLAM (ULIL ALBAB)

Ulul-albab disebut enambelas kali dalam Al-Quran. Menurut Al-Quran, ulul-albab adalah kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah swt. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksaan, dan pengetahuan. disamping pengetahuan yang diperoleh mereka secara empiris:
 “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS. Al-Baqarah 269).


Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa:
 “Mereka adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia.” (QS. Yusuf 111)
.Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini.
 “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mereka itulah ulul-albab..” (QS. Al- Imran :7).

Didalam Al-Quran disebutkan 5 tanda-tanda ulul albab yang juga berkaitan dengan tugas-tugasnya yakni :
1.      Bersunggung-sungguh dalam belajar
2.      Berpihak pada kebenaran
3.      Kritis dalam belajar dan menyampaikan ilmu
4.      Sangat takut kepada Allah
5.      Bangun diwaktu malam
































BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.KESIMPULAN

Islam adalah agama yang sangat rasional yang ajaran-ajarannya tidak hanya mengatur tentang peribadatan saja tetapi juga perintah-perintah untuk kaum muslim agar membaca dan merenungkan penciptaan alam semesta beserta isinya. Perenungan dan pemikiran tentang ala mini ditujukan untuk mengetahui eksistensi Allah SWT (tuhan semesta alam). Dapat dikatakan bahwa secara ideal ilmu menurut pandangan islam dapat mengantar kepada keimanan kokoh, kepribadian yang mantap serta akhlak yang mulia(Al-akhlaqul karimah)


B.SARAN

Alangkah indahnya jika kita hidup menyesuaikan diri dengan ilmu teknologi yang berbau islam. Tidak berat sebelah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar